TEORI NEUROSCIENSE DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Isi Artikel Utama

Wiwik Damayanti
Sutarto
Ermis Suryana

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tranformasi Metode pendidikan baru yang dikenal sebagai teori neurosains berfokus pada kinerja saraf otak siswa. Pendidik seringkali hanya mengikuti keinginan siswa dan tidak memperhatikan potensi otak siswa untuk membantu mereka belajar. Neurologi pertama adalah Cajal, seorang ilmuwan Spanyol yang dianugerahi Penghargaan Nobel 1906, yang menemukan empat doktrin neurosain. Salah satu dari doktrin ini adalah Teori Emosi, yang menyatakan bahwa korteks dan sistem saraf simpatik menyebabkan perasaan; Amigdala, yang berfungsi untuk ingatan emosional, terdiri dari nukleus atau kluster badan sel dan belahan otak kiri dan kanan. Kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana otak manusia belajar dan menanggapi ajaran agama dengan menggunakan teori neurosains dalam pendidikan agama Islam.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Damayanti, W., Sutarto, S., & Suryana, E. (2023). TEORI NEUROSCIENSE DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Jurnal Literasiologi, 10(1). https://doi.org/10.47783/literasiologi.v10i1.615
Bagian
Articles

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

1 2 3 > >>